Hosting Murah

Upgrade website/ blog menjadi .com atau .id hanya Rp.1000/ bulan Di sini

Sastra dan Literatur Arab pada Masa Daulah Bani Umawiyah

Semenanjung Arabia
Daulah Umayyah dimulai sejak di bai’atnya Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai khalifah di Damaskus. Setelah terjadi kisruh panjang antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan setelah fitnah terhadap Utsman bin Affan Radhiyallahu anhum. Ditambah lagi tusukan-tusukan dari para pengikut Abdullah bin Saba’ yang kini kita kenal dengan Shiah. Masa Daulah Umawiyah adalah masa keemasan kedua Peradaban Islam ditandai dengan adanya mata uang Islam di Damaskus. Dan juga berkuasanya Armada Laut serta ditaklukannya Semenanjung Iberia yang menjadi cikal bakal berdirinya negeri Andalusia.

Perkembangan ini juga memberi efek pada Literatur Sastra Arab. Pada masa sahabat, syair dan natsrul adabi hanya menempati posisi penting dalam hal-hal tertentu. Pada Masa Umawiyah, Syair mencapai masa kejayaannya. Syair seakan menjadi senjata paling tajam untuk menyerang, tameng terkokoh untuk pertahanan diri, dan juga meneruskan fungsi awalnya yaitu media pewarisan Ilmu pengetahuan dalam Masyarakat Muslim.

Kemunculan kelompok-kelompok dalam Umat Muslim juga memberi efek besar pada perkembangan Syair. Suasana politik pada masa umawiyah sangat panas, terutama perseteruan antara pengikut Ali dan Pengikut Muawiyah. Begitu juga dengan kemunculan Khawariji dan Zubairi. Para pujangga dari masing-masing kelompok saling melempar syair kepada kelompok lain.

Salah satu Syair yang berbau politik adalah Syair Farazdaq, seorang Syiah yang memuji Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib Zainal Abidin yang saat itu adalah Imam bagi pengikut Ali bin Abi Thalib. Suatu hari Hisham bin Abdul Malik khalifah saat itu melakukan Umrah. Saat tiba di Masjidil Haram, Hisham dan pengawalnya terhalang oleh keramaian orang berthawaf, Hisham ingin menyentuh Hajarul Aswad tetapi kesulitan menembus traffic ini. Hisham memilih duduk menunggu berhentinya keramaian. Ali Zainal Abidin memasuki zona thawaf dan orang-orang yang sedang thawaf membukakan jalan baginya untuk menuju hajarul aswad.

Pengawal Hisham heran melihat perlakuan orang-orang terhadap orang ini dan bertanya kepada Hisham bin Abdul malik. Hisham mengatakan bahwa dia tidak mengenal, padahal faktanya Hisham mengenal baik lawan politiknya ini. Farazdaq yang sedang berada di dekat mereka mendengar perkataan Hisham ini, mendekati rombongan Hisham dan bersyair memuji Ali Zainal Abidin. Kejadian ini membuat Hisham bin Abdul Malik malu.
Ada beberapa Faktor yang menyebabkan Syair berkembang pada masa ini, yaitu :

Kemunculan Kelompok Politik
Kemunculan kelompok politik adalah salah satu hal yang menyebabkan Syair begitu berkembang, sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Pada Masa Umawiyah muncul beberapa kelompok yaitu Syiah, para pengikut Ali bin Abi Thalib; Umawiyyin, Para petinggi daulah umayyah di damaskus dan para pengikut setianya; Zubairiyin, para pengikut Abdullah bin Zubair yang berusaha mengkudeta Umawiyah namun terbunuh di depan Ka’bah.; dan Khawarij, yaitu kelompok yang membuang kesetiaannya dari Ali bin Abi Thalib terkait kejadian Tahkim.

Setiap kelompok membuat Syair dengan tujuan mengagungkan kelompok mereka dan merendahkan kelompok lain. Bahkan juga menggunakannya untuk menarik simpati masyarakat muslim. Penyair memegang peranan sangat penting dalam kekuatan salah satu kelompok Politik ini.

Fanatik Qabilah
Pada masa Daulah Umawiyah umat islam kembali ke Sifat Jahiliyah yaitu Ashabiyah Qabilah. Banu Umayyah adalah Qabilah yang dominannya berasal dari Yaman. Banu Hasyim yang diwakili oleh keturunan Ali bin Abi Thalib juga Fanatik pada Qabilah mereka. Dan juga beberapa qabilah dari Persia dan Mesir. Sifat yang sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah ini kembali lagi muncul dalam Umat Muslim pada Masa Umawiyah dan menjadi salah satu factor berkembangnya Syair sebagaimana Faktor Kelompok Politik tadi.

Perhatian Khalifah terhadap Syair dan Penyair
Semua Khalifah Bani Umayyah kecuali Sulaiman bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz sangat menaruh perhatian terhadap Syair. Bahkan mengupah para penyair, menyediakan fasilitas yang bagus untuk mereka. Khalifah juga memerintahkan memetakan Ilmu Bahasa Arab terutama persoalan Balaghah, Nahwu, dan Sharf agar muncul penyair-penyair nantinya. Jika pemimpin sudah turun dalam perkembangan Sastra maka Kemajuan pesatlah yang terjadi dalam Sastra Arab.

Perhatian Khalifah ini juga memiliki efek negative, terutama menyebarnya para Penyair Mutakassibun (Penjilat) yang menginginkan upah dari Syair-syair pujiannya alih-alih memperhatikan keindahan bahasa yang ada dalam Syair yang di buat. Dan para penyair ini nantinya menjadi para Zindiq yang merusak Agama Islam ini karena pujian mereka yang berlebihan terhadap sesuatu.

Panggung Hiburan dan Nyanyian
Umat Islam pada masa Daulah Umawiyah sudah menjadi umat heterogen. Para Farsi yang berasal dari Persia juga masuk dalam perkembangan Sastra Arab. Mereka mempelajari bahasa Arab, bahkan mereka lebih Ahli dari orang Arab sendiri. Hingga mereka membawa budaya mereka yaitu nyanyian dengan menggunakan kalimat-kalimat indah dari Syair Arab. Mereka mendirikan tempat-tempat Hiburan dan Nyanyian, semisal Bar ataupun Club Malam pada masa modern ini. Dalam tempat ini mereka menyanyikan syair-syair. Hal ini juga menarik perhatian para penyair yang ingin syair mereka terkenal hingga mereka juga masuk kedalam urusan ini dan menjadi penyair yang berlagu dengan Syairnya.

Sumber : Kuliyah Ust Syahminan, MA (Dosen Tarikh Adab wa Nushush UIN Ar-Raniry)
SHARE

Ibnu Hisham Az-Zuhri

Hi. I’I'm Writer and owner of this site. I’m CEO/Founder of Maktabah Az-Zuhri. I’m Islamic educator, Islamist Activist, Speaker, Writer and Student. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment