Hosting Murah

Upgrade website/ blog menjadi .com atau .id hanya Rp.1000/ bulan Di sini

Masjid-Masjid Aceh, Berbenahlah!

Masjid Negara Malaysia
Masjid bukanlah hanya sekedar tempat Ibadah. Bukan hanya tempat yang dikunjungi ketika adzan berkumandang, atau ketika terjadi musibah besar. Masjid adalah sebuah symbol Umat Muslim, pusat peradaban, tempat memulai aktifitas sehari-hari, dan juga ranah penyelesaian berbagai persoalan Umat. Bahkan masjid harusnya menjadi penggerak ekonomi masyarakat Muslim. Andai saja Masjid diposisikan sesuai dengan fungsinya, Umat islam akan menjadi umat yang paling maju peradabannya dan kembali merepresentasikan dirinya sebagai ummatan wasathan.

Rasulullah telah menggagaskan peran Masjid dengan begitu fungsional ketika Masjid Nabawi dibangun yaitu sebagai tempat ibadah, sarana menuntut Ilmu, wadah pembinaan umat, penggerak lajunya peradaban dan kebudayaan sehingga lahir kader-kader sebaik-baik umat yang nantinya menjadi tonggak kebangkitan Ummat, juga sebagai pusat kaderisasi umat, dan titik mula kebangkitan umat. Masjid Nabawi sendiri masih difungsikan sesuai perannya hingga hari ini. Semua kegiatan ini masih terus hidup pada beberapa masjid yang ada di dunia.

Berdasarkan Pengalaman Penulis ketika tripping ke Pulau Jawa dan Negara tetangga, Penulis sempat mengunjungi beberapa masjid-masjid yang luar biasa dan mengagumkan. Penulis sendiri merasa heran dan tertarik saat melihat Klinik kesehatan ada di masjid, mengingat hal ini tidak ada di kampung Penulis. Penulis juga telah melakukan pendalaman wawasan dan berbagi pengalaman dengan mereka yang telah pulang dari perantuannya ke berbagai Negara di dunia terkait persoalan Kondisi Masjid disana. Aktifitas Jama’ah, Fasilitas dan Struktur Fisik Masjid adalah hal yang membuat penulis takjub.

Dimulai dari pengalaman ketika mengunjungi Masjid terbesar di Asia tenggara, Masjid Istiqlal, Jakarta. Ini adalah pertama kalinya Penulis melihat Sekolah di dalam masjid, Kedai dan Bazaar bertebaran di dekat Masjid, Anak-anak ditempatkan dalam ruangan khusus agar tidak mengganggu para Jama’ah yang sedang Shalat, dan juga bilik-bilik kajian yang sangat banyak. Hal ini tentunya dipandang normal bagi masyarakat setempat. Namun, bagi Penulis hal ini luar biasa karena tidak ditemukan di kampung halaman. Masjid pun jarang terlihat sepi, kecuali beranjak tengah malam. Selain turis lokal dan mancanegara, warga jakartapun senang ketika mendatangi masjid Istiqlal.
Tempat penitipan barang berharga
Sebelum memasuki Ruangan Shalat

Pengalaman sedikit berbeda ketika Penulis mengunjungi Negara Tetangga Malaysia. Salah satunya di Masjid Negara, Kuala Lumpur Malaysia, disana Penulis menemukan hal-hal serupa dengan Masjid-masjid di Jakarta seperti kedai-kedai, Klinik, Sekolah dan beberapa fasilitas unik seperti ruang khusus anak-anak. Tetapi ada sedikit keunikan dalam Masjid ini yaitu Kain katun putih yang lembut, dibentangkan sepanjang Shaf pertama. Beruntung Penulis berada di Shaf pertama ketika Shalat, terdapat sensasi sendiri ketika Sujud diatas katun lembut ini. Layar Proyektor dan Proyektor sendiri bergelantungan di langit-langit masjid dekat pintu keluar. Menurut cerita salah satu sahabat yang tinggal di KL, Screen ini digunakan untuk menampilkan isi Khutbah jum’at dengan Slide power point. Ini mencerminkan bagaimana Malaysia memanfaatkan teknologi untuk kebutuhan umat Muslim.

Saat di Kuala Lumpur, Penulis tinggal di kawasan Suburban melayu yang dikenal dengan nama Kampung Baru. Disana terdapat sebuah masjid yang ukurannya tidak terlalu besar dan luas, bahkan berada di tengah kawasan perdagangan. Masjid ini difasilitasi ATM Room, dan tentunya Full Air Conditioner(AC). Di pintu Masjid telah berdiri seorang Laki-laki muda yang biasanya menjual minyak wangi di depan Masjid, ketika waktu shalat tiba, Dia memercikkan minyak wangi yang dia jual Cuma-Cuma kepada jama’ah yang datang. Selama berada di KL, Penulis kesulitan untuk menemukan Masjid ataupun Langgar yang tidak menyediakan AC. Sebaliknya, di kampung Penulis sangat mudah menemukan Masjid yang tidak ber AC. Dan hampir seluruh Masjid yang Penulis kunjungi di Negara Tetangga memiliki Fasilitas Kedai-kedai dan Klinik khusus. Mengingat kedua hal ini merupakan tempat yang paling dibutuhkan masyarakat di luar waktu Shalat.

Khawater 6, sebuah Program Televisi arab yang di pandu oleh Ahmad Al Shugairi pernah meliput bagaimana peran masjid di Asia Tenggara dan membandingkannya dengan Negara Arab. Ahmad Shagiri meliput sebuah masjid di Singapura. Masjid Al Iman, Bukit Panjang, Singapura. Masjid yang berkapasitas 5,000 jama’ah ini memiliki Lobby check in dan semua pengunjung masjid terdata setiap harinya. Pengunjung Masjid akan di berikan guest card yang dengannya Dia bisa memanfaatkan fasilitas Masjid. The Hotel Masjid adalah julukan yang cocok untuk masjid yang satu ini.
Seluruh Fasilitas dan kegiatan yang mengagumkan ini, adalah hal yang sangat langka di Kampung Penulis, Banda Aceh. Muncul pertanyaan, apakah penduduk Banda Aceh yang sangat ketinggalan peradabannya? Atau pengelolaan masjid yang tidak baik? Atau kolotnya pandangan orang-orang hingga masjid hanya dianggap sebagai tempat Shalat berjama’ah dan menafikan peran-peran masjid lainnya?.

Belakangan salah satu masjid di Banda Aceh mulai berbenah dan memperbaiki diri. Mulai menerapkan timing Adzan-iqamah, pengatur shaf, tempat wudhu yang bersih, Parking Lot yang tertata rapi, dan tentunya Klinik kesehatan dan kedai makanan. Alhasil, Masjid ini memiliki daya tarik sendiri bagi pengunjung. Bahkan orang semakin bersemangat dan cinta untuk datang ke masjid ini, bisa beribadah dengan nyaman dan dilayani fasilitas yang luar biasa, hingga tidak ada kekecewaan dalam hati jama’ah ketika pulang dari masjid ini.

Lantas, bagaimana dengan masjid-masjid lainnya. Penulis pernah mendapati keluhan dari  jama’ah masjid seputar kebersihan MCK, kehilangan sandal, tempat sujud yang bau apek, dan juga lapangan parker yang sangat kacau dan menyulitkan jama’ah untuk mengeluarkan kendaraannya. Niat awal untuk menemukan ketenangan Ibadah malah terganggu dengan bau apek tempat sujud, tidak nyaman ketika menggunakan MCK, dan juga terburu-buru untuk keluar masjid agar mudah keluar dari kerumunan kendaraan yang parkir sembarangan.
Jama'ah butuh kenyamanan ketika Shalat dan di luar Shalat

Konsekuensi dari buruknya pelayanan masjid ini adalah kaburnya jama’ah dari masjid tersebut. Siapapun yang pernah kehilangan sandal di suatu tempat, akan lebih berhati-hati untuk mengunjungi tempat tersebut dan memperkecil frekuensi kunjungannya. Alih-alih kehilangan khusyu’nya shalat karena ambal berdebu dan bau apek, mereka lebih memilih masjid lain atau shalat di rumah. Bahkan ada orang yang ketika diajak ke suatu masjid menolak dengan alasan kendaraannya akan hilang jika datang kesana. Ini adalah salah satu faktor orang enggan ke masjid. Belum lagi berbicara persoalan tersedianya klinik dan kedai makanan juga hal-hal lain sebagaimana fasilitas Masjid-masjid yang luar biasa.


Ini adalah sebuah pelajaran yang semestinya kita sebagai penduduk Banda Aceh membenahi Masjid-masjid. Merekonstruksi sarana dan prasarana, membantu meningkatkan pelayanan terhadap pengunjung masjid, dan hal lain yang mendukung terwujudnya Masjid sebagai pusat aktifitas Umat Muslim. Dan ini adalah tanggung jawab seluruh Masyarakat Banda Aceh dan Pemerintah kota Banda Aceh yang Muslim tentunya.

Ibn Hisham Az-Zuhri
Masjid Activist
SHARE

Ibnu Hisham Az-Zuhri

Hi. I’I'm Writer and owner of this site. I’m CEO/Founder of Maktabah Az-Zuhri. I’m Islamic educator, Islamist Activist, Speaker, Writer and Student. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment