Hosting Murah

Upgrade website/ blog menjadi .com atau .id hanya Rp.1000/ bulan Di sini

Literatur Arab sebelum datangnya Islam

Arab Peninsula
Arab adalah suatu bangsa yang mendiami daerah jazirah Arab di Timur tengah. Arab dibagi menjadi dua Bangsa yaitu Qahtani, bangsa berkulit lebih gelap yang merupakan penghuni arab selatan(Yaman) dan Adnani yang berkulit lebih putih, lahir dari bangsa ini Qurasy, berasal dari Nabiyullah Ismail bin Ibrahim as. Sebelum kedatangan Khalilullah Ibrahim, Istrinya Hajar, dan Anak-nya Ismail as yang saat itu masih bayi ke Semenanjung Arab, tanah Arab adalah suatu Lembah tandus yang tidak ada tumbuhan sedikitpun saat itu sebagaimana diceritakan dalam surah Ibrahim ayat 37. Tidak ada penghuni tetap di daerah tersebut kecuali gunung batu bahkan airpun adalah hal yang asing bagi tanah itu, suku Jurhum salah satu Qahtani yang terkenal sebagai suku nomaden hanya melewati daerah tersebut untuk menuju daerah lain di selatan arab.

Nabi Ibrahim as meninggalkan Ismail dan Istrinya di lembah tersebut sesuai perintah Allah swt. Sebuah kisah paling dramatis yang menguji kekuatan cinta seorang Hamba Allah kepada Tuhannya mengalahkan cinta terhadap makhluk-Nya, dan juga kisah perjuangan seorang Ibu yang mengorbankan diri untuk Anak-nya sementara dia berada dalam kesusahan, Sebuah kisah tentang hebatnya Kesabaran ayng berbuah nikmat yang bermanfaat bagi seluruh makhluk baik yang mati ataupun hidup yaitu mata air zam-zam, setelah kemunculan mata air zam-zam di Tanah tandus itu, suku jurhum yang biasanya hanya melewati daerah itu menetap dan menjadikannya sebagai rest area karena adanya sumber air. Tanah tandus itupun menjadi hidup dan ramai dikunjungi orang. Ismail as tumbuh besar dan menikah dengan salah satu wanita suku jurhum. Dari sinilah asal nasabnya Bangsa Arab Adnani, beberapa masa setelah itu, Qahtan dan Adnani bercampur hingga muncullah Arab yang sekarang kita kenal.
Gambaran Makkah ketika Ka'bah dibangun

Jika melihat garis nasab, Bangsa Arab berasal dari percampuran Ibrani(Nabi Ibrahim as) pemilik kekuatan yang besar dan persaudaraan yang kuat, dan Bangsa Mesir kuno(Hajar as) yang telah maju peradabannya disbanding bangsa lain pada masa itu. Sehingga bahasa yang digunakan oleh bangsa Arab memiliki kemiripan dengan kedua bahasa tersebut.

Bangsa Arab berbicara dengan Bahasa Arab yang merupakan Rumpun Semit-Hemit. Rumpun Semit-Hemit adalah rumpun bahasa yang berasal dari dua putra Nabi Nuh yaitu Sam dan Ham. Bahasa yang serumpun dengan Bahasa Arab adalah Bahasa Israel/Hebrew, Bahasa Aram, Bahasa Asyirria, dan bahasa minor di Teluk Arab. Rumpun semit-hemit ini diwarisi dari Ibrahim as yang berbangsa Ibrani. Sebelum bahasa arab ini digunakan penghuni nomad jazirah arab yaitu Bangsa Jurhum berbicara dengan Jurhumi dan telah membaur dengan bahasa arab, sementara Bangsa ‘Ad dan Tsamud berbicara dengan bahasa mereka yang telah punah bersama punahnya dua Bangsa yang diazab ini.
Bangsa Arab juga dikenal sebagai bangsa yang tidak punya kemampuan membaca dan menulis(walaupun terdapat sebagian kecil dari mereka yang mampu), tetapi mereka diberikan kekuatan ingatan yang luar biasa. Arab mewarisi bahasanya melalui lisan, dan mewarisi budayanya melalui syair dan riwayat yang diingat oleh anak-cucu mereka. Peneliti sejarah sangat tidak dianjurkan untuk meneliti arab pra-islam dengan mencari sumber-sumber tertulis karena hal tersebut sangat sulit bahkan mustahil didapatkan.

Begitu pula dengan Kesastraan, nilai dan Sejarah Arab, semuanya diceritakan di dalam syair. Syair sendiri adalah bagian dari Karya Sastra Arab. Makna Syair sendiri adalah “Sebuah kumpulan kata-kata indah yang memiliki wazan dan qafiyah”. Syair dibaca dengan irama dan tempo tertentu, kesamaan dan keseimbangan antara kata-kata di dalam syair dengan Tempo ini disebut Wazan. Sementara Qafiyah adalah kesamaan baris akhir dalam suatu Syair.

Contoh Syair dikutip dari Syair Al-Muta’aliqat Hikmah Zuhair Ibnu Abi Sulma:

فَلَا تَكتُمَنَّ اللهَ مَا فِي صُدُورِكُم        لِيُخلْفَى وَ مَهمَا يُكتَمِ اللهَ يُعلَمِ
يؤخر فيوضع في كتاب فيدخر        ليوم الحساب أو يؤجل فينقمِ

Wazan adalah keseimbanga tempo dalam membaca syair dan Qafiyah adalah kesamaan baris ujung antar dua Bait. Jika kita perhatikan 2 bait diatas keduanya sama, sejajar, dan tempo membacanya seimbang. Begitu juga dengan baris ujung kedua bait ini, sama-sama berakhir mim.

Syair berkembang sejak masa pra-islam. Sebelum kedatangan Islam, ada dua jenis penyair berdasarkan keinginan penyair. Pertama Asy-Syuara’ al Muta’aliqaat yaitu Penyair yang berlomba untuk menjadi 7 penyair yang karyanya akan dipajang di dinding ka’abah, 7 Syair ini dikenal dengan As-Sab’atu Al Muta’aliqah(tujuh yang digantung) diantara penyair yang termasuk dalam kategori ini adalah Zuhair Ibnu Abi Sulma. Perlu digaris bawahi disini, Arab pada masa Jahiliyah berada pada Ideologi Ibrahim (monoteisme) namun telah bercampur dengan Ideologi Romawi (Paganisme) sehingga banyak dari mereka menganggap berhala adalah penghubung antara mereka dengan Allah(Az-Zumar ayat 3) sehingga banyak kita temukan dalam Syair mereka menggunakan Lafazh Allah, karena hakikatnya mereka mengenal Allah swt sebagi tuhan yang satu tapi disamarkan oleh pelopor berhala di Arab Amru bin Luhay.
Kumpulan Syair Ibnu Abi Sulma

Kategori kedua dalam jenis penyair adalah Al-Mutakassibat, yaitu para penyair yang mencari penghidupan dari Syair mereka, Syair mereka berisi pujian-pujian dan mereka sangat fleksibel dengan tema syair mereka tergantung dengan siapa mereka berhadapan. Dari pujian-pujian itu mereka meraup uang untuk penghidupan mereka. Ibarat seorang penjilat penguasa yang ada dimasa modern, sifat ini ada pada para penyair mutakassibat.

Syair sendiri memiliki tujuan tertentu dan maksud tertentu.Tujuan Syair pada masa pra islam dikategorikan menjadi 8 yaitu :
1. Kebanggaan : Para Penyair membanggakan keberanian, pelopor, kedermawaan, kemenangan. Kebanggaan ini terbagi menjadi dua bagian, فخر قبلي kebanggaan akan suku/qobilah dan فخر فردي kebanggaan diri sendiri.
2. Antusiasme : adalah puisi yang mengandung kekuatan dan keberanian untuk memotivasi dalam peperangan atau perlombaan.
3. Deskripsi : Para Penyair suka berimajinasi untuk mendeskripsikan pemandangan, dan menggambarkan keadaan gurun sahara, langit, bulan, bintang, kuda dan unta.
4. Ghazal : yaitu berita tentang wanita dan kebaikannya. Puisi ini sangat banyak sampai tak terhingga jumlahnya.
5. Pujian : Para penyair jahiliayah suka memuji raja-raja, para pemimpin, konglomerat, dan para dermawan.
6. Jasa : memuji orang yang mati karena jasa pada waktu hidup dengan kedermawanan, keberanian, kemurahan hati. Yang paling istimewa adalah kejujuran.
7. Kebijaksanaan : Tujuan ini merupakan pengalaman dan akhlak – akhlak yang baik di sekitar penyair.
8. Hinaan : menghina dan mencela tubuh atau akhlak seseorang, seperti kikir. Atau kelompok seperti qabilah yang lemah.

Ghazal dan Pujian adalah jenis yang paling banyak ditemukan dalam syair arab pra-islam.
Inilah perkembangan Literatur Arab yang menggunakan Syair sebagai satu-satunya media pewarisan Budaya dan Sejarah. Keindahan Syair ini banyak membuat orang Arab sendiri terpesona, bahkan bisa mengubah suasana hati, keberpihakan dalam suatu perkara, bahkan memikat seseorang untuk mencintai sesuatu. Penyair adalah orang yang paling punya pengaruh di Arab mengalahkan pengaruh seorang Kepala Qabilah, dan juga orang yang paling diwaspadai mengalahkan ketakutan warga sipil kepada komandan perang, bahkan perang di arab dimulai dengan Adu Syair dan juga ditentukan dengan kehebatan penyair setiap pasukan.

Pengaruh Keindahan kata-kata juga menjadi salah satu sebab kenapa Al-Qur'an itu mudah diterima oleh Masyarakat Arab, Keindahan Al-Qur'an tentunya mengalahkan Penyair manapun, bahkan Yasir ayah dari Amr bin yasir masuk islam hanya setelah mendengar dan meresapi keindahan Kata-kata dalam Surah Adh-Dhuha, Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiyallhu anhu juga masuk Islam setelah mendengar keindahan Surah Thaha.

Sumber : Kuliah Tarikh Adab wa Nushuh Guru kami Al Mukarram Syahminan, MA
SHARE

Ibnu Hisham Az-Zuhri

Hi. I’I'm Writer and owner of this site. I’m CEO/Founder of Maktabah Az-Zuhri. I’m Islamic educator, Islamist Activist, Speaker, Writer and Student. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment