Hosting Murah

Upgrade website/ blog menjadi .com atau .id hanya Rp.1000/ bulan Di sini

Sejarah Pembukuan Hadits

Kenalnya Bangsa Arab akan tulisan dan bacaaan
Bangsa tidak mengenal tulisan dan tidak bisa membaca pada masa sebelum Islam, seperti di jelaskan dalam kitab “Ulumul Hadits wa Musthalatahu” karya Dr.Shaihi Ibrahim Shalih, bahwa bangsa arab tidak kenal Tulisan dan Bacaan dan tidak ada Teknologi disana
لن نغلو في وصف العرب - قبيل الإسلام - بجهل الكتابة وعدم التمرس بها، لِنُدْرَةِ أَدَوَاتِهَا المُتَيَسِّرَةِ لديهم وتعويلهم على الذاكرة في حفظ آثارهم ورواية آدابهم، فَمِمَّا لا ريب فيه أنَّ شمال الجزيرة العربية عرف الكتابة والقراءة، وَأَنَّ مكة بمركزها التجاري الممتاز شهدت من القارئين الكاتبين قبيل البعثة أكثر مِمَّا شهدت المدينة، وإنا لنستبعد ألاَّ يَكُونَ في ذلك الحين بمكة - كما جاء في بعض الأخبار - «إِلاَّ بِضْعَةَ عَشَرَ رَجُلاً يَقْرَؤُونَ وَيَكْتُبُونَ»، لأنَّ هَذِهِ الأَخْبَارَ إِذَا صَحَّتْ أَسَانِيدُهَا لاَ تَبْلُغُ أَنْ تَكُونَ إِحْصَاءً دَقِيقًا أَوْ اسْتِقْرَاءً(1)


Dijelaskan dari nash diatas bahwa Bangsa Arab tidak mampu membaca dan menulis dan tidak canggih, juga kekurangan alat dalam hal membaca dan menulis, melakukan hafalan dan periwayatan terhadap sastra mereka, dan tidak diragukan lagi bahwa di utara Jazirah sudah canggih dan mengenal tulisan dan bacaan, dan Makkah adalah pusatnya, dan di makkah terdapat 10 orang yang mampu membaca dan menulis, Namun data itu tidak pasti, tidak akurat, karena hanya berbatas pada perkiraan. Mereka yang tidak mampu membaca dikenal dengan nama “Ummiyu”.“Ummiyu” memiliki makna, tidak mampu membaca dan menulis, juga bermakna tidak bodoh akan Syariah Ketuhanan.

    Pada masa Rasul Shalla Allahu alaihi wa sallam, penulis wahyu berjumlah 40 dan kebanyakan dari mereka berasal dari kota Makkah Mukarramah. diantaranya Abdullah bin Sa’id bin ‘Ash, beliau merupakan pengajar tulisan dan khat di masjid di Madinah.


Kitab dan buku yang ada pada waktu Rasul hidup
   
Beberapa Sahabat menulis hadits Nabi selama hidupnya, banyak dari mereka menulis dengan izin khusus dari Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wa Sallam. Karena Nabi pernah melarang menulis Hadits karena takut bercampur dengan Al-Qur’an.
    Seperti Hadits Nabi:
عن أبي سعيد الخدري:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لاَ تَكْتُبُوا عَنِّي، وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ، وَحَدِّثُوا عَنِّي وَلاَ حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Dari Abi Said Al Khudri, Rasulullah bersabda : Janganlah menulis sesuatu dariku, Siapa yang menulis dariku selain Al-Quran maka hapuslah, barangsiapa yang berdusta atas namaku maka tempatnya adalah di neraka.

    Namun, pada masa akhir hidup Rasulullah, merka yang menulis hadits, mengikatnya  setelah diizinkan menulis hadits bagi yang menginkannya dan yang berurusan dengannya. Diantara mereka yang menulis hadits
1.    Said bin ‘Ubadah al-Anshari, diriwayatkan oleh Tirmidzi, dan catatannya sampai ke Bukhari
2.    Samurah bin Jundub, diriwayatkan oleh dzahabi, dikenal dengan nama Ibnu Sirrin
3.    Jabir bin Abdullah, catatannya di riwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya, catatan beliau berisi masalah terkait manasik haji dan khutbah Haji wada’
4.    Qatadah bin Da’amah As- Sudusi
5.    Sulaiman bin Qais Al-Yasykariy, murid Jabir bin Abdullah
6.    Wahab bin Munabah, Murid dari Jabir bin Abdullah
7.    Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash, Sahdiqatu Shahifah, dan merupakan rujukan utama kitab musnad Imam Ahmad bin Hanbal
8.    ‘Amru bin Syu’aib
9.    Jalil bin Jabir
10.     Abu Hurairah Al-Anshari, merupakan perawi awal yang paling banyak meriwayatkan Hadits

Masih banyak lagi yang menulis Hadits Nabi, tapi 10 diatas adalah yang paling masyhur.
    Setelah Rasul wafat, pada masa khulafau rasyidin. Mereka lebih menekankan periwayatan dan menjauhi penulisan berkelanjutan, bahkan Abu Bakar Ash-Shidq mengumpulkan 500 lembar Hadits lalu membakarnya.
 Umar bin Khattab tidak langsung menyusun Hadits setelah bertekad membukukan Hadits. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat, beliau meniggalkan keinginannya tersebut, karena melihat kepada ahli kitab yang menulis kitab Allah pendapat mereka, mereka malah meninggalkan kitab Allah. Maka Umar meninggalkan keinginannya, diriwayatkan oleh Urwah bin Zubair.
Begitu juga pada masa Tabi’in yang juga menjauhi Tulisan seperti yang dilakukan oleh Sahabat. Akan tetapi, Juru Tulis pada masa Tabi’in sangat banyak dan sangat terkenal adalah Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri Al Madani. Beliau membukukan Hadits pertama kali.
Banyak sekali tabi’in yang membukukan Hadits di antaranya Hasan al Bashri, Ubaidah bin Amru Salmani, Mujahid bin Jabir, Usamah bin Malik Ad-darimi, dan lain-lain.
Sebab di bukukannya Hadits agar tidak terjadi penipuan umum melalui hadits-hadits maudhu’ yang pada masa Umar bin Abdul Aziz mulai terjadi, karena kekhawatiran inilah diambil keputusan untuk membukukan Hadits.

Perjalanan dalam menuntut Hadits
    Telah diketahui bahwa Sahabat, Tabi’in dalam hal mencari Hadits melakukan perjalanan baik itu ketempat yang dekat maupun negeri yang harus ditempuh berhari-hari.
    Bahkan hingga ke Syam, yang jarak ke Mekkah sekitar 2 bulan perjalanan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Jabir bin Abdullah untuk menemui Abdullah bin Unais, hanya demi mendapatkan satu hadits. Bahkan ada dari mereka yang berkelana dengan jalan kaki
 Pencarian Hadits sudah terjadi sejak masa Sahabat, banyak para Peziarah yang berhaji mendengar Hadits dari orang-orang Madinah Al munawwarah. Dan tempat-tempat yang terdapat para perawi hadits di situ adalah :
1.    Madinah Al-Munawwarah
2.    Makkah Al- Mukarramah
3.    Syam
4.    Iraq
5.    Yaman
6.    Bashrah
7.    Mesir
Ada satu hal unik yang pernah dilakukan oleh orang yang menghafal hadits, yaitu menceritakan hadits itu dengan dinar(dibayar). Diantara mereka yang melakukannya adalah Ya’qub bin Ibrahim bin Said dan Abu nu’aim.

Penyeleksian dan Pembukuan, dan Penyempurnaan Kitab Hadits
    Ide tentang Pembukuan Hadits sudah ada sejak Umar bin Khattab memerintah. Namun, Beliau menolak membukukannya seperti yang telah kami jelaskan dalam pembahasan sebelumnya.
    Ide ini kembali ada pada masa pemerintahahan Umar bin Abdul Aziz, karena munculnya hadits-hadits palsu yang dibuat untuk urusan politik dan sebagainya. Beliau memerintahkan Gubernur Madinah untuk mengumpulkan Hadits dari penghafalnya.
    Beliau juga menginstruksikan kepada Syihab Az-Zuhri. Lantaran Imam Az-Zuhri lebih banyak menghafal Hadits daripada yang lainnya. Akan tetapi Kitab yang di tulis beliau dan juga kitab yang ditulis oleh Abu Bakr bin Muhammad bin Hazm(Gubernur Madinah) telah lenyap dan tidak sampai ke generasi kita.
    Pada masa Tabi’ut Tabi’in muncullah Malik bin Anas atau yang dikenal dengan Imam Malik, pendiri Mazhab Maliki. Malik bin Anas mengarang kitab Muwaththa’ yang diklaim sebagai kitab Hadits pertama.
    Begitu banyak Kitab Hadits setelah terbitnya Muwaththa’ itu diantaranya Musnad Imam Ahmad dikarang oleh Ahmad bin Hanbal, Musnad Syafi’i dikarang oleh Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Atsar Sufyan Ats-Tsauri dikarang oleh Sufyan Ats-Tsauri, dan juga Sunan Ad-darimi, Sunan Abi daud dan lain-lain.
    Hingga muncul seorang pemuda asal Uzbek dari Bukhara, yaitu Muhammad bin Ismail Al Bukhari yang kita kenal sebagai Imam Bukhari. Beliau menulis Jami’u Shahih atau Shahih Bukhari yang merupakan Kitab Hadits yang paling Tsiqah(kuat). Kemudian muncul Muslim bin Hajjaj dengan Shahih Muslimnya, Tirmidzi dengan Sunannya, Nasa’i dan Ibnu Majah yang ke-enam kitab Hadits tersebut, dinamakan Kutubun Sittah
    Setelah masa Bukhari, terjadilah masa penyempurnaan penyusunan kitab hadits atau Fahrasul Hadits dan pen-syarahan kitab Hadits. Masa ini berlangsung sangat lama mulai dari abad 4 hijriah sampai masa sekarang.
    Pada masa penyempurnaan kitab Hadits, muncul Ulama-Ulama yang mensyarah Hadits dan menyempurnakan susunan Hadits dalam Kitab. Diantaranya Muhyiddin An-Nawawi yang mensyarah Sahih Muslim, Al-Baihaqi yang mengumpulkan Hadits Hukum. Asy-Syaukani mengarang Nailul Authar, Ibnu Rajab Al Hanbal dengan Fathul Barinya dan Ibnu Hajar al-Asqalani dengan Fathul Bari.
    Hingga masa kontemporerpun(masa sekarang) ulama-ulama Hadits masih bermunculan. Shalih Al-Uthaimin dan Nashiruddin Al Albani muncul sebagai tokoh yang paling masyhur dengan mengarang Syarah Arbain An-Nawawi(Al Utsaimin) dan Al-Albani meringkas(membuat Mukhtasar) bagi kutubun sittah.
    Perkembangan dalam mempelajari Hadits akan terus terjadi Hingga hari kiamat selama Ilmu Hadits masih dipelajari.
SHARE

Ibnu Hisham Az-Zuhri

Hi. I’I'm Writer and owner of this site. I’m CEO/Founder of Maktabah Az-Zuhri. I’m Islamic educator, Islamist Activist, Speaker, Writer and Student. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment