Hosting Murah

Upgrade website/ blog menjadi .com atau .id hanya Rp.1000/ bulan Di sini

Studi Islam di Turki

Kemarin Kita berbicara tentang Studi Islam di Negara besar di Jazirah Arab Saudi Arabia, kali ini kita membicara negara lainnya yaitu Negeri Muhammad Al-Fatih, Turki. Turki memiliki sejarah panjang tentang Studi Islam, simak dibawah ini.

Turki adalah salah satu Bangsa yang mendiami Asia Kecil, mereka masih memliki kemiripan dengan Bangsa Asia Timur dari segi fisik. Bangsa ini mendiami sebuah Tanah yang disebut Anatolia(Turki Modern bagian Asia). Dari Bangsa inilah lahir penakluk Konstatinopel yang telah diramalkan Rasulullah dalam Hadits.

Turki menerima Islam ketika Penaklukan Transoxania  pada masa Bani Umayyah. Qutaybah bin Muslim memimin pasukan Muslim melawan 2 kekaisaran bangsa Turki yang pada Akhirnya Islam di terima oleh Bangsa Turki dengan damai. Islamnya Turki memberikan dampak baik kepada perkembangan Islam sendiri, karena Bangsa Turki dikenal dengan kegigihan dan ketangguhannya dalam perang. Ditangan Turkilah Islam berhasil mencapai semenanjung Balkan dan Konstatinopel ditaklukan.


Kesultanan Seljuk dan Utsmani adalah 2 Dinasti yang memegang kekhalifahan Islam. Seljuk pernah menguasai Kekhalifahan Abbasiah selama satu periode. Dimasa merekalah Bani Abbasiah memperluas kembali Tanah kekuasaannya setelah kebubrukan Abbasiah saat dipegang oleh Bani Buwaih. Dan pada masa mereka pula perang Salib pertama terjadi, walaupun kontribusi mereka dalam Perang ini kurang karena Islam mengalami masa Disintegrasi. Kesultanan Seljuk dikenal karena Perang Manzikart dan Sultan mereka yang paling terkenal adalah Alp Arslan. Dinasti Seljuk juga membendung pengaruh Syiah yang ada dalam Dinasti Abbasiah karena Seljuk menganut Faham salafi.

Adapun Utsmaniyah, sebuah Kesultanan paling Prestius dalam Dunia Islam. Hampir 7 Abad mereka memegang tampuh Kekhalifahan Islam. Dan Sultan Muhammad II Al Fatih adalah Salah satu Sultan Utsmaniyah, namanya telah ramalkan oleh Rasulullah, Beliaulah penakluk Konstantinopel dan mengganti namanya menjadi Istanbul. Khilafah ini runtuh pada Tahun 1924 oleh gerakan sekuler Kemal Attaturk.

Sekularisme mengubah Turki menjadi Republik yang tidak berlandaskan Islam. Jika dulu Turki menggunakan Bahasa Arab dan Turki sebagai bahasa Resmi, pasca Revolusi Turki menghapus Bahasa Arab dan mengubah beberapa Mesjid menjadi Depot obat dan Museum . Hari ini Turki tidak dapat disebut Negara Islam walaupun 99.5% penduduknya adalah Islam. Penduduk Turki terbagi kedalam 2 kubu yaitu Kemalis(Sekuler) dan Nurusiah(Islamis). Ideologi Sekularisme yang dibawa oleh Ataturk tetap terjaga karena peran Militer dan salah satu peraturan tidak tertulis Turki yaitu “Presiden harus Sekuler”  . sementara kaum Islamis Turki umumnya adalah pengikut Said Nursi atau dikenal sebagai Nurusiah dan sebagian kecil mereka adalah Sufi.

Studi Islam di Turki banyak dipengaruhi oleh Tasawuf. Banyak Ulama Sufi lahir di Turki seperti Jalaludin Rumi, Bediuzzaman Said Nursi, dan Muhammad Fethullah Gulen. Pada Masa Utsmaniyah sangat sedikit ditemukan Universitas dan Pusat pengkajian Islam, karena Islam dipelajari seperti kaum Arab mewarisi Islam. Pasca penaklukan Konstatinopel Universitas pertama di Turki dibangun oleh Muhammad Al Fatih II dan terus bertahan hingga hari ini yaitu Istanbul University. Saat Revolusi Studi Islam sempat dihentikan karena salah satu keputusan dari Kemal Ataturk adalah larangan mempelajari Islam, seluruh Fakultas Studi Islam di Universitas yang ada waktu itu dihapuskan. Namun, larangan ini tidak lama bertahan. Perhatian Republik Turki terhadap Studi Islam sangatlah kurang, sangat sulit ditemukan pusat Studi Islam di Turki. Akan tetapi sejak 2003 Turki banyak melakukan perubahan dengan memasukkan kembali nilai-nilai Islam kedalam kehidupan Masyarakat.

Republik Turki dikenal sebagai tempat pendalaman Ilmu Terapan, dibuktikan dengan banyaknya Universitas-Universitas yang menjadi mesin pencetak Ilmuwan-Ilmuwan ilmu terapan. Pendidikan di Turki juga menitik beratkan pada Ilmu Terapan dan Nasionalisme . Sekuler menjadi sebab terjadinya hal ini. Namun, bukan berarti Pendidikan Islam dan Studi Islam benar-benar lenyap.

Pada masa awal Revolusi Islam sempat dilarang dipelajari secara Formal, banyak madrasah islam ditutup pada tahun 1924 , mereka juga merubah Istanbul University menjadi sekuler.  Kaum Islamis saat itu kesulitan menyebar Dakwah dan mempelajari Islam karena dihalangi oleh Pemerintah. Mereka hanya bisa melakukan Studi Islam dalam majelis-majelis kecil dan tersembunyi atau belajar di luar Turki. Bediuzzaman Said Nursi di usir keluar dari Turki dan hanya bisa mengajar diperbatasan Iraq dan Anatolia, sebagaiman di ceritakan oleh Muhammad Fethullah Gulen ketika beliau menuntut Ilmu Tafsir kepada Said Nursi .

Larangan Sekolah Islam itu dicabut oleh Presiden ketiga Turki Cemal Gursel, tetapi Madrasah dan Universitas Islam tidak dapat berdiri karena penolakan dari kaum Sekuler. Gursel mengambil keputusan untuk membolehkan Majelis-Majelis Ilmu Islam berada di Mesjid dan dibuka untuk umum, juga mendirikan ma’had tahfizh untuk mencetak Huffazh Turki.

Perlahan tapi pasti Turki akhirnya memiliki Universitas Islam di Istanbul dan mendirikan fakultas teologi dan Ilmu bahasa arab di Ankara University  dan beberapa Universitas lainnya. Langkah ini mulai terwujud ketika kaum Islamis berhasil menduduki parlemen Turki. Hingga hari ini Turki belum memiliki Universitas Khusus untuk Studi Islam.

Walaupun demikian, Studi Islam tetap ada di Turki walau tidak segencar masa Utsmaniyah. Terdapat lebih dari 100 Madrasah Tahfizh di kota Istanbul , disinilah pengkaji Islam memperdalam keilmuannya walau hanya sebatas pada Ilmu Al-Qur’an. Turki juga terkenal sebagai pencetak Huffazh terbanyak setelah Mesir dan Maroko.

Turki termasuk Negara yang memberikan kebebasan pada penduduknya. Kebalikan dari Saudi Arabia, buku-buku pergerakan Islam seperti karangan Hasan Al Banna, Rasyid Ridha, dan Said Nursi dipelajari secara bebas. Recep Tayyib Erdogan dan Abdullah Gul adalah pengikut Said Nursi dan Hasan Al Banna. Jumlah madrasah Tahfizh yang sangat banyak juga menjadi salah satu kelebihan mereka.

Lantaran terlalu bebas, pintu berkembangan sekuler dan liberal terbuka lebar dalam Studi Islam. Tidak heran jika di Turki terdapat Yazidi yang hanya berpedoman kepada Al-Quran. Kelemahan lainnya adalah dihapusnya Bahasa Arab dari sistem pendidikan formal Turki. Dalam mempelajari Islam mereka sangat memerlukan terjemahan atau mempelajari kembali Bahasa Arab.

Dapat disimpulkan bahwa Studi Islam dikedua Negara ini berkembang walaupun sempat mengalami kejatuhan yang luar biasa. Dan diharapkan masa mendatang Studi Islam di kedua Negara ini terus berkembang pesat.
SHARE

Ibnu Hisham Az-Zuhri

Hi. I’I'm Writer and owner of this site. I’m CEO/Founder of Maktabah Az-Zuhri. I’m Islamic educator, Islamist Activist, Speaker, Writer and Student. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment