Hosting Murah

Upgrade website/ blog menjadi .com atau .id hanya Rp.1000/ bulan Di sini

Studi Islam di Saudi Arabia



Saudi Arabia adalah Monarki baru yang muncul pasca Islam Klasik. Jika bercerita tentang Studi Islam di Saudi Islam maka Sejarahnya dimulai dari Studi Islam pada masyarkat Arab. Secara historis Studi Islam di Arab sudah dimulai sejak Rasulullah SAW masih hidup. Islam pada bangsa Arab diajarkan dengan metode pewarisan dan pengajaran dalam satu mejelis di Masjid nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah. Dengan metode ini Islam terus diwariskan kepada generasi-generasi bangsa arab berikutnya hingga hari ini.

Madinah yang merupakan kota tempat wafat Rasulullah SAW, adalah mata air Ilmu Islam. Banyak Ulama berasal dari kota ini. Walaupun tidak memiliki Sekolah dan Universitas ada masa itu, Islam dipelajari oleh Majelis Abdullah bin Umar,  beliau adalah sahabat Nabi yang telah meriwayatkan 2019 Hadits dari Nabi dan juga ahli dalam Ilmu Hadits dan Tafsir. Setiap harinya Ibnu Umar memiliki Ratusan murid dalam Majelisnya dan dari beliau muncul ulama-ulama seperti Urwah bin Zubair, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Malik bin Anas dan lain-lain.

Saat Hijaz diduduki oleh Dinasti Abbasiyah, Madinah menjadi pusat Studi Islam murni saat Baghdad dan Quthubah(cordova) sebagai Pusat Studi Ilmu terapan. Pada masa itu Imam Malik adalah guru besar dan Majelisnya dikenal sebagai majelis ilmu yang paling ramai, Imam Syafi’i termasuk diantara penimba ilmu di sana.


Tidak berbeda di Makkah, Ibnu Abbas yang telah di do’akan Nabi Muhammad agar menjadi yang terFaqih diantara sahabat lain, mengajar di kota yang terletak di lembah diantara bukit batu ini. Ibnu Abbas dikenal sebagai Ahli Tafsir, dan beliau juga menulis sebuah kitab Tafsir pertama dan menjadi rujukan utama Ilmu Tafsir bil Ma’tsur. Beliau lebih mengkhususkan Majelisnya pada kajian Ilmu Tafsir. Dan dari Majelis ini beliau muncul Imam Mujahid, dan At-Tabari.

Studi Islam di Arab terus berkembang sepanjang masa Islam Klasik. 2 Kota ini terjaga karena keduanya tidak dapat disentuh oleh tentara Mongol yang  membumihanguskan Baghdad dan Perpustakaannya. Adalah tentara Qutz yang dikomandoi oleh Ibnu Taimiyah yang menghalangi tentara Mongol memasuki Tabuk yang merupakan jalan menuju Hijaz. Jasa kedua nya terkenal di Hijaz dan Najd, oleh karena itu penduduk Najd yang berada di timur hijaz dengan senang hati menerima ajaran Ibnu Taimiyah, begitu juga penduduk Hijaz walaupun hanya sebagian saja.

Hijaz pada Masa Islam Klasik diduduki oleh 3 Dinasti yang berbeda, Ayyubiyah pada masa Salahuddin Al-Ayyubi, kemudian Mamluk yaitu pada masa Qutz dan Ibnu Taimiyah, kemudian Seljuk, setelah pemerintahan Seljuk Hijaz menjadi Pemerintahan yang berdiri sendiri dan pada akhirnya Hijaz menjadi Teritori dari Utsmaniyah.

Selama masa ini Studi Islam tetap berjalan, bahkan berkembang. Semakin banyak Majelis Ilmu dan Semakin bertambah pula Ulama-ulama yang lahir. Namun, pembangunan Sekolah dan Universitas tetap belum dilakukan karena Masyarakat Arab masih memegang Tradisi yaitu Pewarisan Ilmu melalui Majelis, berbeda dengan Cordoba, Kairo, Karawiyin , Bagdad, Timbuktu  dan Istanbul yang telah mendirikan Universitas.

Mendekati Abad 19 M, Kerajaan Saudi Arabia didirikan dan puluhan Kilang Minyak ditemukan di Timur Jazirah Arab. Kerajaan Saudi mendadak menjadi kerajaan yang sangat kaya. Dinasti ini berpusat di Najd Timur Jazirah Arab. Studi Islam di Najd tidak berbeda dengan Hijaz, mereka menggunakan sistem Majelis dalam pewarisan Ilmunya. Dengan modal kekayaan Saudi mencoba merebut Hijaz dari Utsmaniyah, dan mereka berhasil mereubutnya berkat bantuan Inggris  plus kelemahan Khalifah Utsmaniyah pada saat itu.

Hijaz yang telah berada dalam genggaman Rezim Saudi mulai dikembangkan mulai awal abad 20 setelah perang Dunia. Dinasti Saudi benar-benar peduli dengan perkembagan Studi Islam karena mereka menganut ideologi Salafi yang mengajarkan pentingnya Ilmu pengetahuan dibandingkan hal lain. sebagai wujud kepeduliannya Saudi memperluas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi agar Majelis Ilmu lebih leluasa didalamnya. Tak lama setelah itu mereka membangun Universitas-Universitas.

Saudi Arabia adalah pusat Studi Islam dunia, ibarat pepatah “Air mata air adalah yang paling Murni, semakin keruh semakin jauh dari sumbernya”. Makkah dan Madinah adalah tempat Islam berasal, keduanya kini berada dalam teritori Saudi Arabia. Setiap tahunnya ribuan pelajar dari belahan dunia datang kedua tempat ini khusus untuk mempelajari Islam. Studi Islam di Saudi Arabia dipusatkan pada dua tempat yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dalam dua Masjid ini setiap harinya terdapat puluhan majelis disetiap zawiyah-zawiyah masjid dan setiap Majelis memiliki pembahasan yang berbeda-beda.

Kepedulian Kerajaan terhadap studi islam memberikan inisiatif untuk membangun Universitas Khusus untuk mengkaji Islam. Tahun 1957, Universitas Muhammad ibn Saud didirikan di Ibukota Saudi Arabia, Riyadh. Selang beberapa tahun kemudian, Universitas Islam Madinah berdiri di Timur Masjid Nabawi. Turut berdiri setelah itu Umm al Qurra University di Makkah. Dan kini Saudi Arabia memiliki sekitar 10 Universitas khusus mengkaji Islam.

Universitas Islam di Saudi Arabia membebaskan biaya belajar untuk mahasiswanya. Dibeberapa Universitas, mereka menanggung biaya kehidupan mahasiswanya, biaya perjalanan dari tempat asal mahasiswanya, biaya administrasi dan biaya lainnya. Kekayaan yang sangat melimpahlah yang menjadi sebab utama Saudi memberikan Fasilitas selengkap itu, sehingga banyak orang tertarik untuk belajar di Saudi Arabia.

Semua Disiplin-Disiplin Ilmu Islam yang dikembangkan di Saudi Arabia kecuali Tasawuf. Kaum Salafi terkenal dengan penolakan mereka terhadap Sufi karena dipenuhioleh Bid’ah dan Khurafat. Salafi juga dikenal gigih dalam menuntut Ilmu, terutama Ilmu agama. Setiap majelis kajian mereka adalah Majelis Ilmu. Mereka juga menolak Taqlid dalam Fiqh, setiap hokum yang ada harus diketahui dalil dan dasarnya jika tidak diketahui mereka menolaknya dan menganggapnya Bid’ah.

Studi Al-Quran, Tafsir, dan Ilmu Hadits, dan Ilmu Bahasa Arab merupakan Disiplin Ilmu yang paling populer di Saudi Arabia. Dan seluruh Studi Islam ini dipusatkan di kota Madinah, khususnya di Universitas Islam Madinah dan Masjid Nabawi. Seluruh Universitas di Saudi Arabia, baik itu Fakultas Ilmu Agama maupun Ilmu Terapan memasukkan Al-Quran dan Hadits dalam Kurikulum mereka, bahkan mewajibkan Mahasiswanya menghafal Al-Quran.

Pesatnya Perkembangan Studi Islam di Saudi Arabia, menjadi sebab banyaknya Ulama Islam lahir di Saudi Arabia. Abdullah bin Baz, Mufti Saudi Arabia adalah lulusan Univeristas Umm Al Qurra. Sheikh ibn Shalih Al Utsaimin seorang ulama ahli Tauhid juga lulusan dari Universitas Umm Al Qurra. Sheikh Nashiruddin Al Albani seorang ahli takhrij Hadits adalah lulusan Universitas Islam Madinah. Sheikh Abdurrahman As-Sudais, Imam besar Masjidil Haram sekaligus mufti makkah adalah lulusan Muhammad bin Saud University.

Mereka juga menyekolahkan ulama-ulama dari Negara Islam yang lain. Sayyid Sabiq, pengarang Fiqh Sunnah dan Guru besar Al-Azhar menyelesaikan Magisternya di Umm Al Qurra University. Ahmed Deedat, yang dikenal sebagai juru debat melawan Kristen merupakan Bakeloris di Universitas Islam Madinah. Muhammad Sayed Tantawi Grand Sheikh Azhar Syarif Kairo, menyelesaikan Doktoralnya di Universitas Islam Madinah. Dan dua Menteri Agama Indonesia yaitu Maftuh Basyuni, Lc dan Said Agil Husin Munawar adalah Alumni dari Universitas di Saudi Arabia.

Salah kelebihan Studi Islam di Saudi Arabia adalah penggunaan Bahasa Arab sebagai pengantar Studi Islam. Penggunaan ini tentu memberikan dampak yang besar karena Al-Quran berbahasa Arab dan seluruh kitab ulama islam di masa dahulu dikarang menggunakan Bahasa Arab. Mereka tidak perlu lagi melakukan penerjemahan teks dan Naskah, dan dapat langsung melakukan tahqiq. Saudi juga memberikan beasiswa penuh kepada seluruh pelajar Islam yang datang kenegaranya.

Setiap kelebihan pasti memiliki kelemahan. Kelemahan Studi Islam di Saudi adalah dilarangnya pengkajian pemikiran dalam Islam dan juga larangan mempelajari tokoh-tokoh pergerakan Islam seperti Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Rasyid Ridha dan lain-lain.
SHARE

Ibnu Hisham Az-Zuhri

Hi. I’I'm Writer and owner of this site. I’m CEO/Founder of Maktabah Az-Zuhri. I’m Islamic educator, Islamist Activist, Speaker, Writer and Student. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment